Saturday, July 16, 2005

MEMBERESKAN KEGADUHAN SEHABIS AFFAIR

Affair memang harus dibayar sangat mahal. Penyelesaiannya pun tidak cukup dengan kata maaf.

Pestanya sih oke, tapi...beresin piring kotornya yang bikin repot. Ungkapan tersebut rasanya tepat dianalogikan dengan affair. Saat menjalaninya sih pasti happy, tapi membereskan kegaduhannya jelas bikin pusing. Pada prinsipnya, tak ada perselingkuhan yang sekadar iseng-iseng berhadiah. Setiap perselingkuhan pasti didasari "kehausan" akan sesuatu yang berusaha dipenuhinya dengan cara yang tidak semestinya dan tidak pada tempatnya. Padahal kehausan/kebutuhan itu sendiri pun sebenarnya bukan kebutuhan yang bersumber dari masa lalu yang tidak terpenuhi, namun terus diusahakan supaya terpenuhi.

Ironisnya, alasan khilaf dengan mudah dijadikan kambing hitam. Padahal secara psikologis alasan khilaf dalam perkara ini tidak bisa begitu saja diterima. Bukankah saat melakukannya yang bersangkutan punya akal sehat yang memungkinkannya bisa berpikir logis, jernih, rasional, objektif, selain mampu mendengar suara nurani? Dengan kata lain, si "khilaf" sebagai kambing hitam tak akan muncul karena pengendalian diri manusia pada dasarnya jauh lebih kuat daripada kemungkinan munculnya khilaf.

NIAT SAJA TIDAK CUKUP

Tidak ada affair yang bisa berakhir tanpa niat. Kondisi ini menuntut kesungguhan yang kuat dibarengi tindakan tegas pelaku. Sekadar niat tidak akan pernah cukup untuk memutus mata rantai yang memabukkan itu. Sikap mengambang, antara ya dan tidak untuk menghentikan affair, antara ingin kembali membangun keutuhan keluarga sekaligus tidak ingin kehilangan kenikmatan sesaat dari affair tersebut justru akan membuat kegaduhan makin panjang, lebar kian mendalam.

Sikap ambivalen seperti itu tentu hanya menyulut perang kekuatan antara kedua belah pihak jadi semakin berkobar. Antara suami/istri dengan sang kekasih maupun antara luka hati suami/istri yang jadi korban bersama anak-anak mereka. Sementara makin lama "racun" tersebut akan terus menyebar dan merasuki kehidupan keluarga. Tak heran kalau affair kemudian menimbulkan atmosfir depresi, kemarahan dan ketidakpercayaan. Buntutnya, tidak ada lagi kebahagiaan dalam rumah tangga, selain suburnya perasaan sakit hati, kecurigaan dan prasangka.

Untuk membereskannya, langkah-langkah berupa tindakan konkret berikut mau tidak mau memang harus diambil.

* Jujur terhadap diri sendiri

Pelaku affair harus jujur terhadap diri sendiri sebelum membuka masalah ini pada suami/istri. Termasuk mengatakan apa alasan sesungguhnya sampai ia tega melukai hati pasangannya. Apakah itu merupakan kebutuhan untuk diakui kehebatannya, keinginan menjadi "pahlawan" sebagai kompensasi dari inferioritasnya, butuh perhatian istimewa seperti dalam dongeng/sinetron (fantasy about marriage) yang tidak didapatkannya, ataukah orientasi pada uang/materi/gaya hidup yang tidak diperolehnya terkait dengan keterbatasan keluarganya.

* Terus terang

Setelah yakin dengan alasan perselingkuhan, berterus teranglah pada keluarga. Dengan berani berkata jujur, membuka sekaligus menelanjangi kebobrokannya sendiri, diharapkan bisa menjadi langkah awal bagi self-healing yang bersangkutan untuk memulai perjalanan berdamai dengan diri sendiri. Jadi, jangan terlalu mengharapkan belas kasih dan maaf dari keluarga. Ingat, siapa pun tidak akan mudah memaafkan bentuk pengkhianatan seperti ini. Yang terpenting, berusaha jujur untuk mengakui kesalahan sembari berupaya menghentikannya.

* Jalani proses

Dalam proses rekonsiliasi, pastikan tidak ada lagi seulas benang tipis pun yang menghubungkan pelaku dengan pasangan selingkuhnya. Entah itu kesempatan bertemu, saling berkirim SMS, saling menelepon, mengirim/menerima bingkisan dan sejenisnya. Yakinkan diri bahwa hubungan perselingkuhan adalah hubungan manipulatif dan saling memanfaatkan. Ingat, tidak pernah ada relasi sejati dalam hubungan seperti ini.

* Kesungguhan pasti membuahkan hasil

Jangan putus asa bila jalan menuju pintu maaf terlihat tak berujung. Yakinlah bahwa dengan kesungguhan dan ketulusan hati, sedikit demi sedikit hati suami/istri akan luluh juga. Tapi ingat, jangan pernah sekalipun mengulang jalan yang sama apalagi sampai terperosok untuk kedua, ketiga dan kesekian kalinya.

FORGIVE AND FORGET? MUSTAHIL!

Meski si pelaku bisa didera rasa bersalah yang berkepanjangan, namun bebannya pastilah tidak seberat dan sepahit yang dirasakan korban. Setidaknya ada 3 alasan kuat mengapa pernikahan yang sudah ternoda affair perlu dipertahankan:

1. Anak

Anak biasanya menjadi pengikat sebuah pernikahan. Apalagi kalau ada ketergantungan finansial pada pasangan, kehadiran anak sedikit banyak

akan membuat korban berpikir sekian kali sebelum memutuskan berpisah/bercerai.

2. Keyakinan

Perceraian bukanlah alternatif penyelesaian masalah rumah tangga. Meski tidak tertutup kemungkinan untuk melakukannya.

3. Niat dan keinginan

Selama masih terbersit niat dan keinginan untuk mempertahankan biduk rumah tangga, memang tidak ada yang tidak mungkin. Niat inilah yang memungkinkan tumbuhnya toleransi, kerja sama, take and give dari masing-masing pihak untuk berupaya menemukan solusi permasalahan sekaligus mempertahankan rumah tangga mereka.

Forgive atau memaafkan boleh jadi akan diberikan, tapi bagaimana dengan forget atau melupakan? Sepertinya mustahil. Melupakan bukanlah kata yang tepat untuk menggambarkan suasana semacam ini. Sementara "memahami" mungkin lebih cocok. Dengan mencoba memahami masalah ini, maka luka hati tidak akan terus bernanah, meski luka itu tetap bercokol di tempatnya sampai kapan pun. Kemampuan memahami ini pula yang akan mendorong sang suami/istri bisa melihat masalah ini dalam konteks kesejarahan. Contohnya, melihat affair sebagai mata rantai sebab-akibat secara logis dan rasional.

Meski sepertinya sudah memaafkan, yang tak bisa dihindari adalah kemungkinan mengungkit-ungkit lagi masalah yang sama. Sebenarnya tindakan tersebut adalah indikasi pemberian maaf yang dilakukan secara tidak tulus ikhlas. Padahal kalau memang bersedia memaafkan, lakukanlah secara ikhlas dan konsisten. Di pihak lain, kecenderungan untuk membuka-buka kembali luka lama ini tak merupakan bagian dari upaya balas dendam dengan menimbulkan rasa malu, sakit hati dan merasa terpojok dalam diri si pelaku.

Dengan demikian, kalau sudah diniatkan untuk menerima kembali suami/istri yang berselingkuh, jadikan kesempatan ini sebagai momen untuk mem-perbaharui janji pernikahan secara dewasa dan matang. Yakinkan diri sendiri dan pasangan bahwa tidak ada hubungan yang lebih indah dan berkah kecuali hubungan yang terikat dalam pernikahan.

Marfuah Panji Astuti. Ilustrator: Pugoeh

Konsultan ahli:

Jacinta F. Rini, Msi.,
dari Harmawan Consulting, Jakarta

0 Comments:

Post a Comment

<< Home